Entri Populer

Rabu, 19 Januari 2011

laporan fisiologi harvard

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap orang membutuhkan kesegaran jasmani dam beraktivitas. Olehnya itu, kita dianjurkan untuk berolah raga pasling kurang dua kali dalam seminggu. Olah raga memiliki sangat bermanfaat untuk kesehatan sistem kardiovaskuler.
Seseorang yang sehat dan fit akan dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti. Ia masih mempunyai cadangan tenaga yang cukup untuk suatu kegiatan ekstra seperti berolahraga dan rekreasi. Sehat dalam arti umum adalah dengan cara menjaga makanan agar cukup gizi dan menjaga kebersihan sehari-hari. Kebersihan ini meliputi kebersihan diri sendiri, misalnya mandi, berpakaian, dan lain-lain.
Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari kita membandingkan bagaimana kesanggupan kita melakukan aktivitas dengan orang lain. Misalnya ketika menaiki gedung dengan tangga bersama teman, ada yang merasa sangat lelah dan adapula yang terlihat biasa saja. Hal ini dipengaruhi oleh kebugaran jasmani setiap orang. Orang yang sering berolahraga, tubuhnya akan terbiasa atau beradaptasi sehingga ketika melakukan aktivitas yang berat cadangan kekuatannya lebih banyak dibandingkan dengan yang jarang berolah raga. Selain itu, orang yang rajin berolah raga juga memiliki kerja jantung yang baik dan berujung pada lebih rendahnya tekanan darah dibanding yang jarang berolah raga.
Oleh karena itu dam percobaan ini, kita akan mempelajari bagaimana pengaruh aktivitas terhadap kerja jantung dan perubahan fisiologis para atit sehingga berbeda dengan yang bukan atlit.

1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kesanggupan badan untuk melakukan suatu kerja atau dengan kata lain : menentukan kapasitas kerja.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).

Kelebihan dan kekurangan tes Harvard:
Kelebihan dari Harvard Langkah Tes:
 
Peralatannya sederhana
Mudah untuk dilakukan
 
Dapat dikelola sendiri
 
Kekurangan dari Harvard Langkah Tes:
 
Tingkat stres tinggi
Tidak dapat dilakukan untuk anak-anak
Dipengaruhi oleh variasi maksimum detak jantung (HR) (http://www.fitnessvenues.com, 2008)
Tes Harvard merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler. Tes ini menghitung kemampuan untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa lelah. Subjek (orang yang meelakukan tes) melangkah naik dan turun pada papan setinggi 45 cm. jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit atau sampai subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu lagi mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudian dihitung dalam 1 sampai 1,5, 2 sampai 2,5, dan 3 sampai 3,5 menit (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).
ADAPTASI AKUT KARDIOVASKULER PADA KERJA
FISIK
Adaptasi fisiologik terhadap kerja fisik dapat dibagi dalamadaptasi akut dan kronik. Adaptasi akut merupakan penyesuaian tubuh yang terjadi pada saat kerja dilakukan dan adaptasikronik merupakan hasil perubahan pada tubuh oleh suatu periode program latihan fisik. Adanya kerja fisik berarti terdapat suatu pembebanan bagi tubuh dan hal ini akan mengakibatkan teijadinya mekanisme penyesuaian dari alat/organ tubuh bergantung kepada usia, suhu lingkungan, berat ringan beban, lamanya, cara melakukan dan jumlah organ yang terlibat selama kerja fisik tersebut (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
Fungsi utama sistem kardiovaskuler selama kerja fisik adalah menghantar darah ke jaringan yang aktip termasuk oksigen dan nutrien, dan mengangkut produk metabolit dari jaringan tersebut ke alat ekskresi. Untuk melakukan tugas tersebutbeberapa parameter tubuh mengalami perubahan, antara lain : (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
 
FREKUENSI DENYUT JANTUNG
Frekuensi denyut jantung merupakan parameter sederhanadan mudah diukur dan cukup informatip untuk faal kardiovaskuler. Pada keadaan istirahat frekuensi denyut jantungberkisar antara 60 - 80 per menit. Hal ini mudah dideteksi dengan cara palpasi maupun dengan menggunakan alat seperti pulse meter. cardiac monitoring dan sebagainya; tempat pengukuran dapat di a.radialis, a. carotis dan pada apex jantungsendiri. Frekuensi denyut jantung terendah diperoleh pada keadaan istirahat berbaring. Pada posisi duduk sedikit meningkat dan pada posisi berdiri meningkat lebih tinggi dariposisi duduk. Hal ini disebabkan oleh efek grafitasi yang mengurangi jumlah arus balik vena ke jantung yang selanjutnya
mengurangi jumlah isi sekuncup. Untuk menjaga agar curah jantung tetap maka frekuensi denyut jantung meningkat. Sebelum seseorang melakukan kerja fisik, frekuensi denyut jantung pra kerja meningkat di atas nilai pada keadaan istirahat. Makin baik kondisi seseorang akan diperoleh frekuensi denyut jantung yang lebih rendah untuk beban kerja yang sarna. Pada suatu saat meskipun beban ditambah tetapi frekuensi denyut jantung tetap. Frekuensi denyut jantung pada keadaan tersebut disebut frekuensi maksimal. Tiap orang mempunyai frekuensi maksimal denyut jantung yang tampaknya mempunyai hubungan erat dengan faktor usia. (Frekuensi maksimal denyut jantung =220 - usia dengan standar deviasi ± 10 denyut) (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
CURAH JANTUNG/CARDIAC OUTPUT (CO)
Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh jantung, khususnya oleh ventrikel selama satu menit. Satuannya dalam dm3 min-1 (1 dm3 sebanding dengan 1000 cm3 atau 1 liter). (http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Cardiac_output&action, 2008)
Variasi produksi curah jantung dapat disebabkan oleh perubahan dari denyut jantung dan volume sekuncup. Denyut jantung terutama dikontrol oleh persarafan jantung, rangsangan simpatis meningkatkan denyut jantung dan perangsangan parasimpatis menurunkannya. Volume sekuncup juga tetap pada bagian yang dipersarafi, perangsangan simpatis membuat serabut otot jantung berkontraksi dengan kuat ketika diberikan perangsangan yang lama dan parasimpatis akan member rangsangan balik (bertolak belakang). Ketika kekuatan kontraksi naik tanpa peningkatan serabut yang lama, maka darah banyak yang tertinggal di dalam ventrikel, dan peningkatan fase ejeksi dan akhir dari fase sistol yaitu volume darah dalam ventrikel berkurang (Ganong, 2001).
Total volume darah dalam sistem peredaran darah dari rata-rata orang adalah sekitar 5 liter (5000 mL). According to our calculations, the entire volume of blood within the circulatory sytem is pumped by the heart each minute (at rest). Menurut perhitungan, seluruh volume darah dalam system peredaran darah akan dipompa oleh jantung setiap menit (di istirahat). During vigorous exercise, the cardiac output can increase up to 7 fold (35 liters/minute)Latihan (aktivitas fisik) dapat meningkatkan output jantung hingga 7 kali lipat (35 liter / menit) (http://www.biosbcc.net/doohan/sample/index.htm, 2008)
VOLUME SEKUNCUP (STROKE VOLUME)
Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa setiap kontraksi dari ventrikel kiri dan diukur dalam ml/kontraksi. Volume sekuncup meningkat sebanding dengan aktivitas fisik. Pada keadaan normal (tidak dalam aktivitas lebih) setiap orang memilki volume sekuncup rata-rata 50-70ml/kontraksi dan dapat meningkat menjadi 110-130ml/kontraksi scara intensif, ketika melakukanaktivitas fisik. Pada atlet dalam keadaan istirahat memiliki stroke volume rata-rata 90-110 ml/ kontraksi dan meningkat setara dengan 150-220ml/kontraksi (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008).

ARUS DARAH
Sistem pembuluh darah bisa membawa darah kembali ke jaringan yang membutuhkan dengan cepat dan berjalan pada daerah yang hanya membutuhkan oksigen. Pada keadaan istirahat 15-20% uplai darah di sirkulasi pada otot skelet. Selama melakukan aktivitas fisik, ini bisa meningkat menjadi 80-85% dari curah jantung. Darah akan dialirkan dari organ besar seperti ginjal, hati, perut, dan usus. Ini akan meneruskan aliran ke kulit untuk memproduksi panas (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008).
Arus darah dari jantung ke jaringan tubuh bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing jaringan baik dalam keadaanistirahat maupun pada kerja fisik. Jumlah absolut darah yang ke otak selalu tetap/konstan, ke otot dan jantung jumlah darah akan meningkat sesuai dengan bertambahnya beban kerja sedangkan yang ke ginjal, lambung dan usus akan berkurang pada beban kerja yang meningkat. Peningkatan arus darah ke otot yang aktif merupakan kerja persarafan vasodilator dan peningkatan metabolisme yang menimbulkan penurunan pH atau peningkatan derajat keasaman dan pada tingkat lokal akan terlihat lebih banyak kapiler dan arteriol yang membuka. Faktor lain yang berperan dalam pengaturan arus darah adalah siklus jantung. Telah diketahui bahwa dengan bertambahnya beban kerja, akan terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung dan hal ini mengakibatkan lebih singkatnya waktu yang digunakan
untuk satu siklus jantung termasuk fase diastole. Sedangkan pengisian pembuluh darah koroner yang terbanyak adalah padafase diastole. Dengan berkurangnya fase diastole maka arus darah koroner juga akan berkurang (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
TEKANAN DARAH
Dalam keadaan istirahat,, sistole tipikal individu (normal) adalah 110-140 mmHg dan 60-90 mmHg untuk tekanan darah diastol. Selama aktivitas fisik tekanan sistol, tekanan selama kontraksi jantung (disebut sistol) bisa meningkat sampai 200 mmHg dan maksimum pada 250 mmHg yang bisa terjadi pada atlet. Tekanan diastolrelaif tidak berubah secara signifikan ketika melakukan latihan intensif. Faktanya kenaikannya lebih dari 15 mmHg sehingga latihan intensif bisa mengidentifikasi penyakit jantung koroner dan digunakan sebagai penilaian untuk tes toleransi latihan (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008)
Tekanan darah selama kerja fisik memperlihatkan hubungan antara keseimbangan peningkatan curah jantung dan penurunan tahanan perifer dengan adanya vasodilatasi pada pembuluh darah otot yang bekerja. Terlihat bahwa tekanan sistolik akan meningkat secara progresiv sedangkan pada tekanan diastolik tetap atau sedikit menurun
(www.portalkalbe/files/cdk/files/04UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
Berbagai penelitian sekarang ini telah menunjukkan bahwa orang yang mempertahankan kebugaran tubuh yang sesuai, menggunakan beragam latihan secara bijaksana dan melakukan pengaturan berat badan, memilkiki keuntungan tambahan, yaitu hidup lebih panjang. Khususnya antara usia 50-70 tahun, penelitian telah membuktikan bahwa kematian menjadi berkurang tiga kali lipat pada orang yang bugar daripada orang yang tidak bugar (Guyton, 2007).
Kebugaran dapat memperpanjang kehidupan karena dua alasan.
Pertama, kebugaran tubuh dan pengaturan berat badan sangat mengurangi penyakit kardiovaskuler. Hal ini disebabkan oleh (1) pengaturan tekanan darah yang cukup rendah dan (2) pengurangan kolesterol darah dan lipoprotein densitas rendah bersamaan dengan peningkatan lipoprotein densitas tinggi. Perubahan-perubahan ini semua bekerja sama mengurangi jumlah serangan jantung dan stroke otak (Guyton, 2007).
Kedua, dan mingkin yang sama pentingnya orang sehat secara atletik memiliki cadangan kebugaran jasmani yang lebih banyak bila ia sedang sakit. Sebagai contoh, orang yang berusia 80 tahun, yang tidak bugar mengkin memilki system pernapasan yang membatasi pengantaran oksigen ke jaringan tubuh tidak lebih dari 1L/menit. Hal ini berarti bahwa cadangan pernapasan tidak lebih dari tiga sampai empat kali lipat. Namun, seorang yang berusia tua yang secara atletik bugar mungkin memiliki cadangan dua kali lipat. Keadaan ini khususnya penting dalam mempertahankan kehidupan bila orang yang tua tersebut menderita penyakit seperti pneumonia yang dapat dengan cepat memakai semua cadangan pernapasan yang ada. Selain itu, kemampuan untuk meningkatkan curah jantung pada waktu dibutuhkan sering lebih dari 50 persen pada orang tua yang bugar daripada yang tidak bugar (Guyton, 2007).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat
Alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu :
Bangku Harvard
Metronom
Stopwatch
Sphygnomanometer

III.2 Cara Kerja
Sebelum percobaan dimulai aturlah metronome dengan kecepatan 30 kali permenit yaitu sesuai dengan kecepatan naik-turun banku yang akan dilakukan. Ukurlah tekanan darah dan kecepatan denyut nadi orang coba dalam keadaan istirahat (duduk). Bila tekanan darah melebihi 160 mmHg (sistole) sebaiknya percobaan ini jangan dilakukan pada orang tersebut. Sekarang mintalah orang coba untuk melakukan kerja naik-turun bangku Harvard dengan kecepatan yang tepat 30 kai naik turun satu menit yang sesuai dengan bunyi metronome. Kerja ini dilakukan sesanggup mungkin tetapi tidak lebih dari 5 menit. Setelah selesai dengan kerja ini orang segera diminta duduk dan ukurlah tekanan darah dan denyut nadi orang coba. Kemudian lakukan pencatatan denyut nadi pada 1 menit, 2 menit, dan 3 menit setelah percobaan (denyut nadi dihitung selama 30 detik).
Pencatatan denyut nadi dinyatakan sebagai berikut :
F1 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 1 ment sampai 1 menit 30 detik kemudian.
F2 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 2 menit sampai 2 menit 30 detik kemudian.
F3 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 3 menit sampai 3 menit 30 detik kemudian.


Rumus Indeks Kesanggupan Badan (ISK):
CARA CEPAT
IKB=(T x 100)/(5,5 F1)

CARA LAMBAT
IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) )

T = lamanya orang coba naik turun (dalam detik).
PENILAIAN :
Lakukan percobaan ini pada setiap anggota kelompok!

CARA CEPAT : <50 : kesanggupan kurang
50-80 : kesanggupan sedang
>80 : kesanggupan baik
CARA LAMBAT : <50 : kesanggupan kurang
55-64 : kesanggupan sedang
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
Nama orang coba : Rahman
Umur : 19 Tahun
Nama Pemeriksa :
a. Pengukur Tekanan Darah : K’ Fatma
b. Penghitung Denyut nadi : Waode Nurmila
c. Pengukur Waktu : Andi Buana Sari dan Selviana Anwar
Lama naik-turun bangku Harvard : 2 menit 48 detik : 168 detik
- Sebelum beraktivitas :
a. Tekanan Darah : 120 / 80 mmHg
b. Denyut Nadi : 80 Kali / menit
- Setelah Beraktivitas :
a. Tekanan Darah : 140 / 80 mmHg
b. Denyut Nadi : F1 = 100 kali / menit
F2 = 92 kali / menit
F3 = 88 kali / menit

IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) )
= (168 x 100)/(2 (100+92+88))
= 16800/560
= 30 (kesanggupan kurang)



IV.2 Pembahasan
Dalam percobaan ini orang coba diminta untuk melakukan aktivitas fisik yaitu dengan naik turun bangku Harvard yang bertujuan untuk melihat perbedaan tekanan darah dan denyut nadi atau perubahan sistem kardiovaskuler sebelum dan setelah beraktivitas. Percobaan ini dimulai dengan mengukur tekanan dan denyut nadi orang coba. Hasil pengukurannya yaitu tekanan darah 120/80 mmHg dan denyut nadi 80 kali per menit. Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena orang yang bertekanan darah tinggi tidak dapat melakukan percobaan ini karena seseorang yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi, aktivitas jantungnya sudah cukup tinggi dari orang normal yang selanjutnya pembuluh darah untuk mengalirkan darah akan mengalami vasokontriksi dan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi. Jika percobaan ini dilakukan, maka tekanan darah pada orang yang hipertensi akan lebih meningkat lagi walaupun peningkatannya tidak signifikan. Akan tetapi, hal ini akan beresiko yaitu pecahnya pembuluh darah bahkan gagal jantung
Setelah orang coba melakukan naik turun bangku Harvard selama 168 detik, maka tekanan darah dan denyut nadi diukur kembali. Tekanan darah orang coba setelah aktivitas yaitu 140/80 mmHg dan denyut nadi stelah 1 menit (F1)=100 kali permenit, setelah 2 menit (F2)=92 kali permenit, dan setelah 3 menit (F3)=88 kali permenit. Kemudian dilakukan penghitungan IKB dari orang coba dan berdasarkan hasil IKB orang coba adalah 30 atau kesanggupan tubuh kurang. Hal ini belum tentu menunjukkan bahwa kesanggupan orang coba kurang karena mungkin terdapat beberapa faktor misalnya beban kerja yang diberikan tidak terlalu berat, frekuensi naik turun Harvard kurang maksimum, atau standar yang dipakai pada rumus ini merupakan standar dari luar negeri dimana orang barat dominan memiliki kapasitas kerja lebih dibandingkan kita orang Indonesia, misalnya karena faktor pemenuhan gizi atau perbedaan pola hidup dalam pekerjaan sehari-hari.
Pada orang coba dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan tekanan darah (dastole) dan denyut nadi. Hal ini disebakan karena kardiak output jantungkarena kativitas yang meningkat, organ tubuh lain juga akan memerlukan supalai O2 dan nutrisi yang di dapatkan dari jantung. Oleh karena itu, kardiak output juga perlu ditingkatkan agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Karena peningkatan kardiak output inilah dimana darah akan lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan tekanan darah dimana peningkatan ini mengakibatkan gelombang tekanan yang berjalan di sepanjang arteri semakin cepat dan selanjutnya akan mengakibatkan denyut nadi meningkat.
 
Dalam pengaliran darah ke seluruh tubuh ketika beraktivitas, ptmbuluh darah disekitar otot akan mengalami vasodilatasi (lebih besar) agar darah lebih banyak dialirkan. Vasodilatasi ini akan berlanjut pada penurunan tahanan perifer. Hal ini dapat diandaikan dengan dua buah pipa yaitu pipa kecil dan pipa besar. Tentunya pipa kecil akan memilki tahanan yang lebih besar dibandingkan dengan pipa besar. Selain itu, tekanan pada pipa besar lebih rendah dibandingkan pipa kecil demikian halnya dengan pembuluh darah.
Selain itu peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh peningkatan aliran balik vena akibat dari meningkatnya tonus otot karena pergerakan fisik dan penurunan tekanan intratorak. Penurunan tekanan intratorak merupakan akibat dari reaksi tubuh yaitu inspirasi yang dalam pemenuhan kebutuhan O2 untuk menghasilkan energi. Udara mengalir dari atmosfir ke paru-paru juga karena tekanan di atmosfir lebih tinggi dibandingkan tekanan intratorak. Karenan penurunan tekanan ini maka tekanan pada vena pada bagian ekstremitas bawah akan lebih tinggi sehingga akan meningkatkan aliran darah ke jantung.
Peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh saraf otonom yang akan merangsang saraf simpatis sehingga denyut nadi meningkat. Perlu diketahui bahwa perangsangan saraf simpatis akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pada bagian tubuh yang lain kecuali pada pembuluh di disekitar otot yang telah diuraikan sebelumnya.
Berhubungan dengan kardiak output, dapat dijelasan pula bahwa seorang atlit dan orang biasa memilki kardiak output yang sama. Akan tetapi, yang membedakan adalah pada kualitas volume sekuncup (jumlah darah yang dikeluarkan jantung setiap kontraksi). Setiap kali jantung berkontraksi akan menghasilkan darah yang lebih banyak dibandingkan orang biasa. Sehingga untuk menghasilkan kardiak output yang sama dengan atlit, jantung orang biasa akan lebih banyak berkontraksi. Seperti yang kita ketahui kardiak output didapatkan dari pengalian denyut jantung dengan volume sekuncup. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kontraksi jantung pada atlit lebih sedikit tetapi karena volume sekuncup lebih banyak sehingga bisa menyamai kardiak output dari orang biasa yang jantungnya lebih banyak berkontraksi, tetapi volume sekuncupnya lebih sedikit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tekanan darah atlit lebih rendah dibanding yang biasanya (kontraksi jantung lebih sedikit).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini kesimpulan yang dapat ditarik adalah :
Kapasitas kerja adalah Kesanggupan sesorang untuk melakukan kerja dengan seefesien mungkin hingga batas kemampuan kerja.
Dalam percobaan ini indeks kesanggupan badan orang coba setelah dilakukan perhitungan yaitu 30 atau kesanggupan badan kurang.
Suatu aktivitas dapat mengakibatkan peningkatan cardiak output (CO) karena peningkatan diastole sebagai akibat dari peningkatan tonus otot dan tekanan intratorak yang menurun. Selain itu, karena adanya rangsangan otonom yang meningkatkan kerja saraf simpatis sehingga denyut jantung juga meningkat.
 

5.2 Saran
Sebaiknya alat-alat laboratorium yang digunakan dalam praktikum lebih dilengkapi agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar