Entri Populer

Rabu, 19 Januari 2011

DASAR DASAR KOMUNIKASI EFEKTIF

DASAR DASAR KOMUNIKASI EFEKTIF
(Kuliah Pengantar Diskusi bagi Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU Tahun 2010)
Dr. Noermadi Saleh

PENDAHULUAN
Sejak lama telah disadari betapa pentingnya keterampilan berkomunikasi yang harus dimiliki oleh seorang Dokter dalam berinteraksi dengan pasiennya dan dengan masyarakat umumnya.
Secara subjektif, masyarakat sering menggambarkan bahwa dengan berbicara dan mendengarkan penjelasan dari seorang Dokter, yang mengesankan bahwa dia adalah Dokter yang baik, karena waktu berbicara dan menjelaskan dia berbicara dengan jelas, baik dan ramah, pasiennya merasa bahwa sebagian besar keluhan penyakitnya telah hilang.
Dilain pihak, Dokter yang memberikan kesan tidak ingin berbicara dengan ramah dan tidak ingin memberikan penjelasan yang diharapkan atau diminta oleh pasiennya sering dianggap sebagai Dokter yang tidak bisa dipercaya dan karena itu tidak menyakinkan akan bisa menyembuhkan penyakit pasiennya.
Dari tahun 1995, World Health Oganization (WHO) telah melansir ide, bahwa Dokter Masa Depan adalah Dokter yang memiliki atribut THE FIVE-STAR DOCTOR, yaitu Dokter yang memiliki atribut sebagai Care Provider, Decision Maker, Communicator, Community Leader dan Manager.

Secara khusus, dalam atribut Dokter sebagai Communicator,  Dr Charles Boelen (World Health Organization, Geneva, Switzerland) dalam makalahnya THE FIVE-STAR DOCTOR: An asset to health care reform?, menyebutkan bahwa, The doctors of tomorrow must be excellent communicators in order to persuade individuals, families and the communities in their charge to adopt healthy lifestyles and become partners in the health effort.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang sejak tahun 2005 diterapkan dalam Pendidikan Dokter di semua Fakultas Kedokteran di Indonesia, secara spesifik disebutkan bahwa seorang Dokter harus mempunyai kompetensi dan mampu Berkomunikasi Secara Efektif. Dengan demikian sudah menjadi hal yang mutlak pulalah bahwa semua mahasiswa Kedokteran harus menyiapkan diri untuk menjadi Dokter dengan atribut excellent communicators.
Untuk mencapai tujuan menjadi excellent communicators, setiap mahasiswa kedokteran di Indonesia harus bisa menyiapkan diri dalam tiga aspek, Pengetahuan (Knowledge), Sikap (Attitude) dan Praktek (Practice) dalam berkomunikasi. Ketiga aspek tersebut harus secara berkelanjutan, secara simultan dan secara bermakna ditingkatkan sampai ketingkat optimal dan akan selalu menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pribadi seorang Dokter.

PENGERTIAN KOMUNIKASI
Secara praktis, komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (message,dalam bentuk  ide, pikiran, informasi) dari seseorang atau dari satu pihak (pengirim pesan, sender) kepada orang lain atau kepada pihak lain (penerima pesan, receiver) dengan menggunakan cara-cara tertentu.
Pesan (ide, pikiran, informasi) yang ingin disampaikan tersebut, harus sampai kepada dan diterima oleh penerima, dan dimengerti maksudnya oleh penerima. Dimengertinya pesan oleh penerima harus di ujicoba apakah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengirim pesan
Dimengertinya pesan oleh penerima sesuai dengan maksud pengirim pesan, secara praktis dapat diartikan bahwa komunikasi yang dilakukan telah efektif.

CARA DAN MEDIA KOMUNIKASI
Secara umum berkomunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara,
-       Dengan menggunakan kata-kata  ( verbal communication)
-       Tanpa menggunakan kata-kata   (non verbal communication)
-        Kombinasi kata-kata dan tanpa kata-kata (verbal and non verbal communication)
Beberapa contoh praktis media komunikasi adalah,
-       Flyer, leaflet, booklet, poster, banner, ballyhoo
-       Radio spot, Television spot, Film show, Video Compact Disc
-       Music Life Show, Comedian Life Show, Traditional Opera
-       Website
Dari contoh cara-cara dan media komunikasi yang disebutkan diatas, satu hal menjadi sangat penting, yaitu penggunaan bahasa dalam berkomunikasi.
Bahasa yang harus digunakan dalam berkomunikasi agar dicapai komunikasi yang efektif seyogiyanya adalah bahasa yang dimengerti dan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi, baik oleh si pengirim pesan, lebih-lebih lagi oleh si penerima pesan.
Penerima pesan biasanya akan lebih menyukai bahasa yang sederhana dan mudah dipahaminya, yaitu bahasa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-harinya.
Sebaiknya, pengirim pesan harus menterjemahkan lebih dahulu semua pesan yang ingin disampaikannya kedalam bahasa dan kata-kata yang diyakini akan mudah dimengerti dan dipahami oleh penerima pesan. Kata-kata ilmiah yang sulit dipahami harus diterjemahkan kedalam kata-kata yang lazim digunakan penerima pesan sehari-hari, dengan tidak mengurangi arti sebenarnya dari kata-kata ilmiah tersebut.

KOMPETENSI DOKTER BERKOMUNIKASI
Seorang Dokter dianggap berkompeten dalam berkomunikasi jika dalam semua aktifitas komunikasinya dia bisa menyelenggarakan komunikasi secara efektif, dalam arti semua pesan yang disampaikannya dapat diterima, dimengerti dan dipahami oleh pihak-pihak penerima pesan-pesannya.
Penerima pesan yang akan berinteraksi/ berkomunikasi dengan Dokter terutama adalah pasien yang akan atau yang sedang dilayani dan ditanganinya, kemungkinan besar Dokter juga harus banyak berkomunikasi dengan keluarga pasien bersangkutan, misalnya pada pasien anak-anak atau pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar.
Selain dengan pasien dan keluarganya, Dokter sering sekali harus melakukan komunikasi dengan sekelompok orang, misalnya pada waktu seorang Dokter harus memberikan diskusi, ceramah atau kuliah.
Tidak jarang, seorang Dokter juga harus memberikan informasi dan berkomunikasi langsung dengan penerima pesan yang jumlahnya tidak terbatas, melalui media komunikasi massa, misalnya melalui Televisi dan Radio.
Sekali lagi, Dokter akan dianggap berkompeten dalam berkomunikasi jika semua pesan yang disampaikannya dapat diterima, dimengerti dan dipahami oleh pihak-pihak penerima pesan, apakah penerima tersebut personal (misalnya pasien dan keluarganya) atau massa (misalnya pemirsa televisi atau pendengar radio).

KOMUNIKASI INTENSIF
Komunikasi intensif adalah komunikasi yang dilakukan secara khusus, dengan penekanan dan fokus kepada masalah atau issue tertentu yang memerlukan pemahaman yang harus benar-benar terinci dan akurat.
Sering sekali komunikasi intensif harus dilakukan secara cepat, tepat dan segera karena memerlukan tindak lanjut yang harus cepat, tepat dan segera pula. Sebagai contoh klasik, komunikasi intensif harus dilaksanakan jika sedang menghadapi wabah penyakit atau bencana.
Pada waktu wabah dan bencana, komunikasi intensif harus sejalan dengan komunikasi resiko.
Komunikasi resiko adalah informasi-informasi yang dikomunikasikan secara intensif dalam rangka meminimalisir  resiko yang mungkin terjadi, misalnya akibat suatu wabah penyakit atau bencana.
Diperlukan persiapan dan perencanaan yang lebih khusus pula jika kita harus melakukan komunikasi intensif. Biasanya, untuk melakukan komunikasi intensif akan lebih berperan orang-orang yang benar-benar mengetahui dan menguasai issue dan masalah yang ingin dikomunikasikan.

PERENCANAAN KOMUNIKASI
Tidak semua orang dengan sendirinya mengetahui bahwa komunikasi adalah suatu kegiatan yang memerlukan persiapan dan perencanaan yang harus benar-benar detail dan jelas.
Secara praktis, berikut ini adalah langkah-langkah yang seharusnya dijalankan dalam merencanakan suatu kegiatan komunikasi,
-       Pesan apa yang ingin dikomunikasikan, kenapa pesan tersebut ingin dikomunikasikan?
-       Bagaimana pesan akan dikemas, kenapa demikian mengemas pesan tersebut ?
-       Media (media-media) apa yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan, kenapa menggunakan media tersebut ?
-       Apakah sebelumnya pesan sudah pernah di ujicoba, bagaimana cara menguji cobanya, bagaimana hasilnya ?
-       Apakah pesan akan disampaikan satu kali saja atau beberapa kali, alasannya ?
-       Siapa yang akan menyampaikan pesan ?
-       Siapa yang akan menerima pesan ?
-       Bagaimana cara menguji bahwa pesan diterima dan dipahami oleh penerima pesan ?
-       Hambatan-hambatan apa yang ditemui dalam penyampaian pesan ?
-       Apakah untuk selanjutnya pesan memerlukan perobahan, penyesuaian atau perbaikan ? Kenapa ?

KOMUNIKASI PRAKTIS DOKTER - MITRA
Komunikasi antara Dokter dengan pasien atau keluarganya biasanya akan dilakukan di tempat kerja atau di tempat praktek Dokter, di rumah pasien atau di tempat lain dimana Dokter dan pasien nya bertemu dan harus berkomunikasi.
Secara praktis, komunikasi antara Dokter dengan pasien biasanya dilakukan secara verbal (dengan saling berbicara), mungkin dengan bantuan beberapa alat peraga, dan waktunya harus dibatasi. Dibatasinya waktu untuk berkomunikasi tersebut pertama-tama  disebabkan karena waktu Dokter yang tersedia juga terbatas karena Dokter tersebut harus melakukan pelayanan kepada pasiennya yang lain. Dengan dibatasinya waktu berkomunikasi tersebut, tidak berarti semuanya harus dilakukan secara tergesa-gesa. Komunikasinya harus intensif, fokus dan membicarakan hal-hal yang penting-penting dan yang harus didahulukan.
Sering sekali, hanya berkomunikasi secara intensif selama beberapa menit saja, Dokter, pasien dan keluarganya sudah saling memahami tentang kondisi yang sedang atau akan dijalani pasien tersebut.

ILUSTRASI KOMUNIKASI DOKTER - MITRA
ILUSTRASI 1. (Komunikasi interpersonal, antar perorangan, antara Dokter dengan pasiennya)
Setelah melakukan serial pemeriksaan fisik dan laboratorium, Dr Bono dengan yakin menegakkan diagnosa penyakit Pak Beni, yaitu Diabetes Mellitus.
Dr Bono memberitahukan diagnosanya tersebut langsung kepada Pak Beni, disertai dengan beberapa anjuran yang  harus diikuti dan dipatuhi oleh Pak Beni. Dr Bono juga membekali Pak Beni dengan beberapa leaflet berbahasa Inggeris tentang Diabetes Mellitus
Ketika ditanyakan, apakah Pak Beni telah memahami tentang penyakitnya setelah dijelaskan oleh Dr Bono, dia menjawab dengan ragu-ragu : “ Ya, saya mengerti sebagian dari penjelasannya”
Ketika ditanyakan, apakah Pak Beni sudah memahami dengan jelas bahwa penyakitnya memerlukan pemeriksaan berkala kadar gula darah, bahwa dia harus menjaga makanannya dan berpantang gula dan sebaiknya dia secara teratur melakukan gerak badan ringan, dia menjawab dengan tegas : “ Dokter hanya mengatakan saya harus makan obat secara teratur dan tidak boleh makan gula”

ILUSTRASI 2  (Komunikasi massal, antara Dokter dengan sekelompok orang pendengarnya).
Dr Bani bersiap-siap untuk memberikan penyuluhan dan diskusi kesehatan kepada kelompok pemuka masyarakat bertempat di Balai Kecamatan Mata Indah
Topik yang akan dibicarakan Dr Bani dalam penyuluhan dan diskusi kesehatan kali ini adalah tentang Pencegahan Flu Burung dengan Gaya Hidup Bersih dan Sehat. Pemilihan topik Pencegahan Flu Burung karena beberapa waktu lalu dijumpai sejumlah besar ayam mati mendadak di wilayah kecamatan Mata Indah.
Sebelum berangkat ke Balai Kecamatan, Dr Bani menyiapkan bahan-bahan yang mungkin diperlukan untuk kegiatan penyuluhan dan diskusinya nanti, antara lain booklet, flipchart, leaflet, flyer, poster dan vcd tentang Flu Burung
Dr Bani dengan penuh semangat berangkat ke Balai Kecamatan. Sesampai disana dia disambut dengan sangat ramah oleh yang hadir, dia menyalami mereka semua sambil tersenyum, dan menyapa mereka dengan ramah dalam bahasa daerah setempat.
Masyarakat yang hadir pulang ke rumah masing-masing dengan penuh keyakinan dan paham benar bahwa Flu Burung bisa dicegah dan dihindari  dengan memelihara gaya hidup bersih dan sehat.

KOMUNIKASI DALAM KONSELING
Konseling adalah suatu pertemuan tatap muka antara seorang konseli (orang yang ingin menyampaikan masalah yang dialaminya) dengan seorang konselor (yang menyediakan waktu untuk mendengarkan masalah konseli tersebut dan akan membantu konseli mencarikan alternative solusi pemecahan masalahnya) lalu secara bersama-sama mendiskusikan alternative solusi terbaik untuk memecahkan masalah tersebut. Pengambilan keputusan cara pemecahan masalah yang akan diambil sepenuhnya menjadi hak konseli.
Komunikasi yang terjadi dalam proses konseling pada umumnya adalah komunikasi verbal atau komunikasi kombinasi verbal dan non verbal.
Dengan kemajuan teknologi jaringan dan perangkat komunikasi, sangat dimungkinkan tatap muka antara konseli dan konselornya dilakukan jarak jauh (tele conference, video conference). Tidak jarang pula pada waktu ini konseling dilakukan melalui komunikasi radio.
Jelas, bahwa seorang Dokter akan sangat mungkin untuk menjadi seorang konselor. Untuk menjadi seorang konselor yang baik seseorang sebaiknya berusaha menjadi seorang excellent communicator.

MENGHINDARI MALPRAKTIK DENGAN BERKOMUNIKASI
Jika seorang Dokter ingin melakukan pemeriksaan terhadap pasiennya, seharusnya Dokter menjelaskan dengan singkat dan jelas apa saja rangkaian  kegiatan yang akan dilakukannya dalam rangka pemeriksaan tersebut.
Demikian pula jika pemeriksaan tersebut akan dilanjutkan dengan tindakan medis yang diperlukan, Dokter harus menjelaskan tindakan medis yang akan dilakukan, hasil yang diharapkan dari tindakan tersebut, kemungkinan keberhasilan dari tindakan tersebut dan adanya kemungkinan ketidak berhasilannya tindakan.
Jika pasien/ klien sudah mengerti dan memahami rangkaian pemeriksaan dan tindakan yang akan dilakukan oleh Dokter nya, Dokter masih harus menanyakan apakah pasien/ klien nya setuju dilakukannya rangkaian pemeriksaan dan tindakan tersebut. Persetujuan pasien/ klien tersebut benar-benar diperlukan, demi untuk mencegah kemungkinan munculnya tuduhan malpraktik dari pasien/ klien kepada Dokter nya.
Dengan komunikasi intensif antara Dokter – Pasien/ Klien tentang suatu rencana pemeriksaan dan tindakan medis, kesepakatan untuk dijalankannya pemeriksaan dan tindakan seharusnya didokumentasikan secara tertulis sebagai Informed Consent.  Informed consent adalah dokumen yang dapat menjadi back up bagi Dokter dari tuduhan malpraktik. Harap diingat, bahwa Informed Consent dibuat dan ditandatangani sesudah pasien mendapatkan penjelasan selengkapnya dari Dokter nya.

DISKUSI KASUS MIS-KOMUNIKASI
Banyak sekali kasus-kasus yang dituduhkan atau diadukan sebagai malpraktik Dokter hanya karena tidak adanya komunikasi yang intensif antara Dokter – Pasien/ Klien. Sebagian besar kasus-kasus tersebut sebenarnya sudah bisa diprediksi kemungkinan akan terjadinya sejak dari awal, tetapi karena Dokter melalaikan dirinya untuk melakukan Konseling, kelalaian Dokter ini dimanfaatkan oleh Pasien/ Klien untuk menuduh dan mengadukan Dokter nya telah malpraktik.
Menjadi semakin jelas, bahwa peran Dokter sebagai communicator harus benar-benar dijalankan dalam semua aspek kegiatan seorang Dokter. Sedikit saja ada miskomunikasi antara Dokter dan Pasien/ Klien akan mejadi peluang munculnya tuduhan dan aduan malpraktik.
Dilain pihak, Dokter yang konsisten menjalankan perannya sebagai excellent communicator akan mendapat nilai lebih dan sering lebih memudahkannya dalam “me-market-kan” pelayanan professional Dokter nya.

MENJADI EXCELLENT COMMUNICATOR
Berikut ini adalah beberapa langkah praktis untuk menjadi excellent communicator,
-       Mengetahui dan memahami dasar-dasar komunikasi
-       Ingin dan berusaha untuk berkomunikasi dengan baik
-       Mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pesan yang ingin dikomunikasikan
-       Memahami sasaran yang akan menerima pesan
-       Memahami dan mampu menggunakan cara dan media komunikasi yang cocok dengan sasaran
-       Memahami dan mampu menggunakan bahasa yang baik, benar dan dimengerti oleh sasaran
-       Selalu menyediakan dan menggunakan kesempatan untuk mengevaluasi apakah komunikasi yang dilakukan sudah efektif
-       Selalu berusaha untuk melakukan koreksi terhadap kekurangan yang selama ini dilakukan
-       Selalu berusaha meningkatkan kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif
-       Selalu berusaha meminta umpan balik

PENUTUP
Kita telah membahas secara praktis Dasar-dasar Komunikasi Efektif sebagai bahan pengantar diskusi yang akan dilaksanakan oleh Mahasiswa Kedokteran dalam Diskusi Kelompok Kecil nya. Dalam diskusi-diskusi yang akan dilakukan, seharusnya mahasiswa mencari lagi landasan teori komunikasi sebagai pembenaran dan pendukung bahan pengantar diskusi ini, atau justeru sebagai counter terhadap bahan yang telah disediakan ini.
Betapapun, semoga bahan pengantar diskusi ini dapat memperkaya pemahaman mahasiswa kedokteran tentang pentingnya kompetensi berkomukasi efektif bagi seorang Dokter.
Terima kasih.

Medan, September 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar